"sekitar 12 tahunan"
"dimana"
"dipabrik, akukan buruh pabrik"
"lama juga ya, udah punya apa saja?"
"maksudnya?"
"udah punya rumah?"
"belum"
"punya mobil?"
"boro-boro!"
"terus kapan dong punya rumah ama mobil?"
"wah, gak tau tuh, gaji aja sebulan abis, plus ngutang lagi!"
"Ya kira-kira berapa lama ngumpulin duit buat beli mobil aja?"
"mmmm...sekitar 80 tahun lagi lah, tapi gajinya gak dipake makan, dan itupun kalo masih idup!"
"pengen gak punya mobil ama rumah dalam waktu 2 sampai 5 tahun kedepan?
Percakapan diatas salah satu trik yang lazim digunakan oleh kebanyakan pemain MLM pada calon downlinenya.
Termasuk saya. Senjata pamungkas saya pasti pake trik yang diatas, sewaktu masih aktif di MLM. Salah satu MLM yang paling lama saya geluti adalah QN (dulu GQI). Serius banget! sampai ke Singapore dan Malaysia segala ikut training, motivasi, ketemu para leader top sampai foundernya. Dengan modal US$ 400 saya udah dapat komisi 2 kali cheque sebesar USD$400,
totalnya USD$800.
Udah balik modal sih! bahkan untung USD$400 plus barang yg dibeli berupa emas 24 karat murni buatan jerman.
Puaskah saya? Dengan berat hati saya nyatakan bahwa saya tidak puas! bahkan cenderung kecewa!
Multi Level Marketing (MLM) menurutku bisa dilakukan dan berhasil dengan syarat-syarat tertentu. Ilmu MLM sebagian besar senjatanya hanya berbicara, atau kasarnya hanya omong doang. Seseorang yang mengikuti bisnis MLM hampir pasti ingin mendapatkan keuntungan / penghasilan.
Kemarin saya nonton film bioskop di twenty one judulnya "Menggali lubang dubur" (d=k.red). Kemudian saya cerita ama si Anton teman saya. Saya bilang filmnya bagus dan bermutu, pemerannya aktor ternama, cerita dan sutradaranya bagus banget, pokoke rugi kalo gak nonton.
Case 1.
Bila Si Anton tertarik akan cerita saya kemudian dia menonton filmnya, maka secara sengaja nggak sengaja saya udah mempromosikan film itu dan secara nggak langsung saya sudah 'bekerja' untuk produsen film tersebut, iya kan?
Masalahnya saya nggak dapat apa-apa dari hasil 'kerja' tersebut (wong kenal ama produsernya aja nggak kok).
Case 2.
Bila si Anton tidak tertarik akan cerita saya dan tidak mau menonton film itu, maka saya tetap secara sengaja nggak sengaja udah melakukan promosi alias 'kerja' untuk produsen film itu.
Masalahnya tetap sama saja nggak dapat apa-apa dari hasil 'kerja' tersebut.
Berkaca dari Case 1 di atas. Karena Industri MLM yang baik pada dasarnya menggunakan kekuatan Word of mouth dalam strategi pamasarannya. Bila Produsen film tersebut adalah perusahaan MLM dimana Film Menggali Lubang Dubur adalah salah satu produknya, maka saya harus mendapat komisi dari 'hasil kerja' saya (tanpa saya harus membayar biaya keanggotaan sebagai penonton film), karena ada pemasukkan dari si Anton yang mengeluarkan biaya untuk menonton film tersebut.
Kemudian bila si Anton melakukan 'promosi' lagi ke temennya si Amroji, lalu Amroji tertarik dan ikut menonton filmnya, maka si Anton harus dapat komisi atas 'hasil kerjanya' termasuk saya juga dapat komisi dari hasil kerja si Anton (karena Anton tau dari saya) dimana besar komisi saya bisa sama atau tidak sama dengan besar komisi yang didapat Anton tergantung dari keuntungan yang didapat oleh perusahaan. Begitu seterusnya......
Di Case 2, saya nggak dapat komisi dari hasil kerja promosi saya, ini wajar karena perusahaan (produsen film.red) tidak mendapat pemasukkan.
Terlepas dari perhitungan matematis yang dikemukakan oleh bapak Blog Priyadi, saya berkesimpulan untuk perusahaan MLM yang baik :
- Nggak pake biaya keanggotaan.
- Diberikannya komisi langsung setiap ada pemasukkan di perusahaan.
- Tidak adanya nama peringkat, mis Diamond, Crown, Diamond Crown, Silverhawk (halah!), etc...
- Harga produk terjangkau, terutama oleh kalangan menengah ke bawah.
- Produk Real dan mudah dipahami oleh semua kalangan. Dan lebih baik jika produk mempunyai banyak pilihan.
- Tidak adanya perhitungan komisi (baca : sistem.red) yang berbelit-belit. (Apalagi kalo ngitungnya kudu pake kalkulator, harga kalkulatornya aja mungkin lebih mahal dari harga produk!).
- Perusahaan nya benar ada, jelas bentuknya, izin dan orang-orang didalamnya capable dan bisa dipertanggungjawabkan.
- Tidak ada jangka waktu ataupun tutup point perbulan.
- Tidak ada kebohongan berjama'ah (mirip penganiayaan berjama'ahnya Om Pri :))
~ Sampai sekarang saya belum menemukan kriteria perusahaan MLM seperti diatas.
~ Saya sudah ikut banyak MLM, baik presentasi ataupun menjadi anggotanya, tapi hampir semuanya menggunakan sistem yang ribet.
~ Saya pengen ikut MLM tapi yang bagus, soale saya yakin industri MLM mampu menaikkan harkat hidup orang banyak tapi sampai sekarang belum nemu!
Udah ah...Wassalam.
No comments:
Post a Comment